Featured

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

0 Catatan Pejalanan Mzuh: Ke Kampung Buung Kabupaten Pangkep

Akhir pekan di bulan maret lalu, saya dan beberapa teman dari komunitas 1000_guru makassar mengunjungi salah satu lokasi daerah terpencil dikabupaten pangkep. Kami kesana untuk melakukan survey dan mengambil beberapa data dari sekolah didaerah tersebut untuk dijadikan bahan acuan dalam rangka kegiatan traveling and teaching 5 dari komunitas 1000_guru Makassar.

Berpose sebelum berjalan (Dokumentasi pribadi)
Berpose sebelum berjalan (Dokumentasi pribadi)

Setelah menyiapkan berbagai macam alat penunjang untuk berkegiatan dialam bebas serta ransum persiapan 2 hari, kami beranikan diri berangkat pagi-pagi buta. Informasi mengenai sekolah terpencil ini pun hanya kami dapatkan melalui situs blog sekolah tersebut dan beberapa informasi dari teman komunitas. Katanya sekolah ini adalah sekolah yang berada diatas gunung yang berada dikecamatan minasatena kabupaten pangkep. Mengenai titik lokasi pastinya kami hanya bermodalkan google maps dan navigasi mulut

Saat memasuki daerah perbatasan antara kabupaten maros dan pangkep, kami menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak sekaligus bertanya kepada warga sekitar mengenai posisi sekolah. Beberapa kali kami kesasar disebabkan karena kami memilih mengikuti informasi dari google maps padahal sebenarnya informasi tersebut kurang akurat untuk didaerah pedalaman.

Setelah beberapa jam kami berputar-putar dan dapat jalan buntu, akhirnya kami menemukan petunjuk tentang lokasi sekolah yang akan kami kunjungi. Mungkin karena bantuan Tuhan dan niat untuk kegiatan sosial jalan kami dibantu, Kami kesasar dirumah penduduk asli daerah tersebuat disekitar ibukota kecamatan minasatene. Ia berkata “cari mki penjual lemari dijalan berbentuk 8, jalan menuju daerah tondong tallassa itu, terus bertanya mki disitu”.

*****

Berbekal informasi yang kami peroleh, perjalanan kami lanjutkan. Tak sulit untuk menemukan “Penjual lemari di jalan berbentuk 8, jalan menuju daerah Tondong Tallassa” karena waktu tahun 2009 saya pernah melewati jalan itu untuk kegiatan pengkaderan kampus.

Setelah sampai dilokasi yang dimaksud, kami singgah dan bertanya kepada warga, ternyata lokasi sekolah ini memang betul berada diatas gunung. “Itu sana diatas sana” Kata salah seorang warga. Beberapa teman yang ikut ceklok sontak kaget, apalagi warga disana mengatakan “pernah ada mahasiswa juga itu naik, tapi dipertengahan jalan pinsan ki”. Memang akses lokasi sekolah mengharuskan kami untuk berjalan kaki selama kurang lebih 2 jam dengan medan menanjak terus sampai dikampung lokasi sekolah tersebut.


Pemandangan di bulu tellue (dokementasi pribadi)

Saat itu kami diskusi dan menyepakati untuk tetap naik. Setelah menyimpan motor dirumah bapak penjual lemari tersebut, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Selama perjalanan pun kami terus mensupport satu sama lain karena beberapa dari kami baru pertama kali merasakan sensasi naik gunung, belum lagi medan yang menanjak.

Saat dipertengahan jalur pendakian, kami bertemu dengan warga yang membawa batu merah dan menyimpannya diatas kepala mereka yang tak kalah lagi mereka adalah ibu-ibu kampung buung, daerah yang akan kami datangi. Setelah berbincang dengan warga tersebut kami lanjutkan perjalanan dengan sisa-sisa stamina yang kami miliki.

Saat tiba dikampung buung, kami disambut dengan embun dan hamparan padi yang telah menghijau. Sungguh pemandangan yang nikmat, sekejab rasa lelah kami hilang dan segera mungkin melanjutkan perjalan karena saat itu hari hampir gelap.

Hujanpun semakin deras sehingga membuat kami harus beristirahat kembali dirumah-rumah sawah warga setempat. Sembari menyeduh kopi dan menikmati beberapa cemilan banyak warga yang lewat sambil menebar senyum serta mengajak kami untuk menginap dirumahnya. Memang warga didaerah ini sangat ramah dan bersahabat.

Rumah Sawah dan Kabut ditengah sawah warga

Beberapa jam hujanpun tak kunjung reda, jadi kami memutuskan untuk tetap dirumah-rumah sawah itu dan kembali menunggu ajakan dari warga sekitar untuk menginap dirumah mereka. Sampai hari semakin gelap ajakan itupun tidak datang kembali, mungkin karena hujan yang semakin deras jadi warga tak kembali datang. Untuk mengisi waktu kami lebih banyak bercerita serta berbagi pengalaman saat,ada juga teman kami,pimen yang selalu berfantasi. “Enaknya ini klo ada pisang goring coklat sama teh hangat” cetus pimen.Sontak kalimat itu memecah tawa kami.

Yang ditunggu-tunggu pun datang, seorang anak laki-laki datang dan mengajak kami untuk menginap dirumah, segerapun kami iyakan karena beberapa dari kami juga sudah sangat kedinginan. Setelah berkemas, kami harus berjalan beberapa meter melintasi pematang sawah untuk sampai dirumah warga, memang dikampung ini tidak ada jalan seperti daerah-daerah pada umumnya, satu-satunya jalan adalah melewati pematang sawah.

Saat tiba dirumah warga, kami harus memanjat pagar bambu rumah tersebut. Memang disini semua rumah memakai pagar bambu yang harus dipanjat dikarenakan banyak hewan-hewan liar termasuk babi hutan.

Kami menempati rumah ibu Condong, memang rumah ini sangat sepi hanya beranggotan 3 orang; nenek,ibu condong, dan seorang anak laki-laki usia 9 tahun. Setelah disambut dengan hangatnya penerangan dari lilin, kami disajikan pisang goring cokelat dan teh panas, seolah-olah ibu condong mendengar fantasi pimen saat dirumah sawah tadi. Padahal jarak rumah warga dikampung ini saling berjauhan, tidak seperti kebanyakan. Selain itu daerah inipun tidak ada listrik, penerangan hanya mermodalkan lilin, pelita, dan senter.

Malam semakin larut, pisang goreng pun telah habis. kami memutuskan untuk beristirahat karena masih ada tugas yang harus kami kerjakan esok harinya.

====

Catatan Perjalanan : Bulu Tellue, Kampung Buung Kabupaten Pangkep [Hari Kedua]

Hari kedua saat kami berada di Kampung Buung kabupaten pangkep.

Setelah menghabiskan waktu semalaman dirumah ibu condong. Keesokan harinya kami bergegas untuk melanjutkan tujuan kami datang di kampung buung pangkep. Sembari menunggu teman-teman yang lain mandi dan dandan saya keluar menikmati indahnya suguhan alam kampung ini. Udaranya yang dingin serta hamparan sawah yang sangat luas menjadi kenikmatan sendiri bagi saya. Maklum saya lahir dan besar dikota Makassar, pemandangan seperti itu sangat jarang saya rasakan.

Perjalanan ke kampung Buung Pangkep (dokumentasi pribadi)

Sehabis berpamitan dengan keluarga ibu Condong, kami kemudian menuju ke SD 60 Bung. Ini adalah satu-satunya sekolah dasar yang dimiliki kampung ini. Sekolah yang bersatu atap dengan SMP 4 Minasetene ini, memiliki jumlah siswa sebanyak 61 orang padahal jumlah rumah penduduk dikampung ini hanya sekitar kurang lebih 10 rumah. Lantas darimana siswa-siswi ini?

Ketika kami tiba di SD 60 Buung, suasana sekolah sangat sepi. Yang ada hanya sekumpulan warga sedang bergotong royong membangun masjid untuk warga setempat. Ternyata hari itu aktifitas sekolah diliburkan karena hari itu adalah hari libur nasional.

SD 60 Bung (dokumentasi pribadi)

Namun, beruntunglah kami dapat sedikit informasi dari Pak Ari selaku ketua RW setempat. Ia mengatakan sekolah ini memiliki jumlah siswa sebanyak 61 orang sedangkan jumlah rumah penduduk dikampung ini hanya sekitar kurang lebih 10 rumah. siswa-siswa banyak berdatangan dari gunung-gunung sebelah, jajaran gunung Bulu Tellue.

Menurutnya semenjak sekolah ini berdiri pada tahun 2007 anak-anak didaerahnya kembali mengenyam pendidikan. Padahal ditahun-tahun sebelumnya banyak dari penerus mereka putus sekolah dikarenakan sekolah dasar sangat jauh dari daerahnya butuh waktu berjam-jam dengan harus berjalan kaki naik turun gunung.

Kemudian Pak Ari menjelaskan tentang kondisi tenaga pengajar disekolah tersebut. Ternyata para guru hampir tiap hari harus naik turun gunung dan berjalan kaki selama 2 jam untuk mengajar. Hal ini disebabkan karena para guru sudah bermukim dikota pangkep. “Rata-rata sudah berkeluarga mi semua, jadi pulang balekki kodong mengajar” kata Pak Ari.

Sontak kalimat dari pak Ari membuat saya kagum kepada guru-guru ini. Mereka rela menunaikan tugas mulia mereka untuk memberi pengetahuan kepada anak-anak kampung buung walaupun kondisi medan mengharuskan mereka berjalan kaki naik turun gunung tiap hari. Suatu hal yang sangat jauh berbeda dengan tenaga pengajar diperkotaan. Di kota, para guru tidak perlu untuk berjalan kaki ataukah naik turun gunung untuk mengajar tapi masih saja banyak dari mereka yang selalu mengeluh soal jarak sekolah dari rumah mereka.

*****

Didaerah ini juga sangat jauh dari perhatian pemerintah. Jangankan akses jalan untuk kendaraan, Listrik dan jaringan komunikasi belum ada, padahal di era sekarang listrik dan jaringan komunikasi boleh menjadi kebutuhan primer orang-orang diperkotaan.

Untuk kebutuhan warga, tak ada jalan lain selain turun gunung untuk membeli kebutuhan yang mereka perlukan. Inilah keunggulan warga kampung buung, budaya gotong royong masih mereka junjung. Informasi yang diperoleh dari Pak RW setempat, karena tidak adanya akses jalan untuk kendaraan, mengharuskan warga menggotong dari kaki gunung sampai kekampung mereka, padahal akses dari bawah begitu sulit, medan yang menanjak terus dan waktu tempuh selama 2 jam mereka lalui.

Perjalanan ke puncak bulu telleu pangkep

Setelah berdiskusi dengan pak RW, kami kemudian melanjutkan perjalanan mencari lokasi-lokasi yang cocok untuk dijadikan tempat traveling. Ada satu titik yang kami cari yaitu puncak gunung bulu tellue. Dengan berbekal informasi dari warga sekitar kami pun pergi ke puncak tersebut. Ditengah perjalanan kami menyepakati untuk beristirahat sambil mencari jalur yang tepat. Dua orang teman kami, Pimen dan Arwan menawarkan diri mencari jalur menuju puncak. Setelah menunggu kurang lebih 60 menit, mereka kembali dengan penuh keringat karena sempat salah jalur dan tersesat. Setelah mendapatkan beberapa informasi dari mereka, kami menyepakati untuk lanjut menuju puncak tersebut. “Salah-salahki klo nda sampe puncak kawan” kataku sambil menyemangati mereka.

Medan menuju puncak begitu berat memacu adrenalin kami, kami harus melewati punggungan gunung yang begitu rapuh. Kami harus berjalan sangat hati-hati dikarenakan melintasi pinggiran-pinggiran jurang. Beberapa temanpun sering terpeleset.

Begitu tiba dipuncak, senyum teman-temanku semangat lebar, tak jarang dari mereka mengeluarkan smartphone untuk mengabadikan momen itu. Memang sensasi berada dipuncak begitu luar biasa. Namun, keindahan pemandangan puncak saat itu ternodai dengan hancurnya gunung-gunung karst dikabupaten pangkep.

Mengabadikan moment dipuncak bulu tellue (dokumentasi pribadi)

Setelah berfoto-foto dan istirahat sejenak, kami kembali pulang kerumah warga kampung buung tempat kami menginap. Ditengah perjalanan kami beberapa kali harus tersesat. Entah mungkin karena lupa memberi tanda atau memotong jalur kami tersesat di punggung gunung bulu tellue. Kami terus berputar-putar mencari jalur pulang namun tetap menemui jalan buntu. Untungnya pimen yang memang mahasiswa pencinta alam sudah terbiasa dengan situasi ini. Ia meminta kami untuk tidak panik dan tetap fokus.

Teriakan-teriakan khas anak gunung “piiiiuuuu” beberapa kali terdengar. Dalam benak saya, mungkin warga kampung buung datang mencari kami yang telah berjam-jam tidak kembali. Namun begitu membalas teriakan itu,tidak ada balasan kembali. Begitu seterusnya, sampai saya sempat mengingatkan kepada pimen untuk berhenti dan mencari sumber suara tersebut. Namun pimen menolaknya. Ia berkata “Janganmi bro, tidak ada juga tadi orang naik. Mending kita carimi jalur yang tadi kita lewati”.

Saya kemudian bertanya-tanya darimana asal suara itu,padahal memang tidak ada orang lain yang naik selain kelompok kami. Mungkinkah makhluk lain? Entahlah,yang dalam benak saya hanyalah mencari jalur untuk kembali pulang.

Setelah beberapa jam berputar-putar akhirnya kami kembali menemui jalur yang telah kami lewati. Memang seharusnya ketika hilang jalur, para pendaki sebaiknya terus berusaha untuk berpikir jernih tidak panik sehingga menimbulkan masalah-masalah baru. Dibutuhkan ketenangan dan kerjasama yang baik untuk menyelesaikan masalah ini.

Perjalanan pulang kembali ke makassar (dokumentasi pribadi)
Perjalanan pulang kembali ke makassar (dokumentasi pribadi)

Setelah sampai dikampung buung ,beberapa dari kami singgah di air terjun untuk menyegarkan badan dan beberapa perempuan pulang kerumah ibu condong untuk menyiapkan santap siang.Selesai santap siang, kami berpamitan untuk kembali kemakassar dengan janji akan kembali lagi kekampung tersebut memberi sedikit bantuan buat siswa-siswa kampung buung.

Sumber : https://mzuh.wordpress.com/
Read more

0 Perjalanan Pendidikan di Daerah Tertinggal di Indonesia

Sesuai dengan amanat Undang-undang Dasar 45 pasal 31: (1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. (3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan Undang-Undang. (4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. (5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

Perjalanan Pendidikan di Daerah Tertinggal di Indonesia

Makna dari Pasal 31 UUD 1945 tersebut adalah setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan tanpa kecuali. Pada kenyataannya, dengan kondisi negara Indonesia yang sangat luas dan terdiri dari ribuan pulau, mulai Sabang sampai Merauke, kita dihadapkan dengan berbagai permasalahan pelayanan pendidikan bagi masyarakat. Padahal pendidikan merupakan faktor utama dalam menentukan kemajuan sebuah bangsa. Dengan tingkat pendidikan yang tinggi, maka akan semakin baik sumber daya manusia yang ada, dan pada akhirnya akan semakin tinggi pula daya kreatifitas pemuda Indonesia dalam mengisi pembangunan sebuah bangsa. Namun di Indonesia, untuk mewujudkan pendidikan yang baik dan berkualitas sesuai dengan standar nasional saja masih sangat sulit.

Berbagai permasalahan seringkali menghambat peningkatkan mutu pendidikan nasional, khususnya di daerah tertinggal atau terpencil, yang pada akhirnya mewarnai perjalanan pendidikan di Indoensia. Di suatu daerah terpencil masih banyak dijumpai kondisi di mana anak-anak belum terlayani pendidikannya. Angka putus sekolah yang masih tinggi. Juga masalah kekurangan guru, walaupun pada sebagain daerah, khususnya daerah perkotaan persediaan guru berlebih. Sarana dan prasarana yang belum memadai. Itulah sederat fakta-fakta yang menghiasai wajah pendidikan kita di daerah terpencil.

Perkampungan Buung, Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan adalah salah satu contoh daerah tertinggal yang masih sangat kurang dalam memberikan pelayanan pendidikan kepada anak-anak. Adalah sebuah fakta-fakta kekurangan pelayanan pendidikan selama ini. Misalnya kekurangan guru, sarana dan prasarana pendidikan yang kurang memadai, serta biaya operasional pendidikan yang sangat minim dan sarana prasarana sekolah yang belum memadai.

Terkait dengan masalah pemenuhan tenaga pendidik, pemerintah kita (melalui dinas pendidikan) sebenarnya secara khusus telah berusaha melakukan pemenuhan melalui penempatan guru-guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) baru yang ditempatkan di daerah tertinggal atau terpencil. Akan tetapi, fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak guru yang enggan mengajar di daerah terpencil dengan beragam alasan.

Salah satu faktor yang menyebabkan keengganan para guru untuk mengajar di daerah terpencil atau tertinggal adalah letak sekolah yang sulit dijangkau. Alasan berikutnya adalah minimnya fasilitas dan hiburan. Di Indonesia, pada umumnya guru yang mengajar di daerah terpencil tidak betah dikarenakan fasilitas yang tidak memadai. Selain jauh dari pusat keramaian, fasilitas tempat tinggal guru juga tidak dipenuhi oleh pemerintah. Akibatnya banyak guru yang merasa tidak nyaman dan mengajukan pindah ke sekolah yang berada di perkotaan.

Dengan adanya berbagai permasalahan penyelenggaran pendidikan di daerah tertinggal atau terpencil, seharusnya masalah pelayanan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat luas, melalui berbagai organisasi kemasyarakatan, NGO, dan organisasi lainnya bisa ikut terlibat dalam membantu mengatasi berbagai kekurangan layanan pendidikan di daerah terpencil.

Program-program pemberdayaan serta pengembangan kapasistas dan kompetensi guru, penyediaan sarana prasarana pendidikan, dan lain sebagainya adalah program-program yang bisa dilakukan untuk membantu ketertinggalan pendidikan anak-anak Indonesia di daerah tertinggal atau terpencil. (Referensi : www.medcofoundation.org)
Read more

0 10 Tahun Mengabdi Namun Cita2nya Belum Terwujud

Abdul Asis, S.Pdi adalah sala satu tenaga pengajar di sekolah kami, beliau sudah 10 tahun mengabdikan diri namun cita2nya belum terwujud terangkat sebagai PNS, baginya mengajar adalah sebuah ibadah, rela meninggakan keluarga demi mencerdaskan kehidupan anak2 bangsa.

Abdul Asis, S.Pdi


Selain Mengabdikan diri disekolah, dia adalah sosok Petani yang ulet dan sebagai guru mengaji dikampung halamannya, Sungguh mulia dirimu semoga Tuhan membalasnya..Amin.
Read more

0 Perjalanan Ke Puncak Gunung Untuk Mencerdaskan Bangsa

Kabupaten Pangkep merupakan salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang dianugerahi kekayaan alam berupa bentang alam yang terdiri dari kepulauan, daratan dan juga pegunungan. Tentu saja kekayaan alam ini, disatu sisi juga melahirkan tantangan.

Salah satunya soal pendidikan bagi anak-anak yang berada di daerah terpencil. Hal inilah yang dijalani setiap hari oleh Hasbi, salah satu guru yang mengabdi di SD Bung yang ada di Pangkep. Kepada Aktualita.co, Hasbi yang mengajar mata pelajaran Penjas ini menceritakan suka dukanya mengajar di SD terpencil yang letaknya ada di puncak gunung.

Pemandangan indah terbentang saat di kaki gunung menuju ke tempat mengajar (Foto: Dok pribadi)

Dari rumah, ia mengendarai sepeda motor menuju kaki gunung Bulusaraung—gunung tertinggi yang ada di Pangkep. Dari sini, perjalanan sesungguhnya barulah dimulai. Ia harus berjalan kaki menuju puncak gunung, tempat SD 60 Bung berada. SD 60 Bung terdapat di Kelurahan Bontoa Kecamatan Minasatene yang hingga saat ini belum dialiri listrik dan tidak ada sinyal selular.

Perjalanan di tengah hutan menuju tempat mengajar (Foto: Dok Pribadi)

Perjalanan menuju tempatnya mengabdi bukanlah jalan biasa. Bukit terjal dan pemandangan indah menakjubkan adalah hiburannya dalam perjalanan. Berbekal nasi dan sebotol air ia pun menyusuri lereng gunung yang membutuhkan waktu 2 jam untuk sampai ke tempatnya mengajar.

“Terkadang saya harus menemui hewan hutan seperti ular, babi hutan atau bahkan monyet yang siap merampas bekal yang saya bawa dalam perjalanan,” kenangnya. Tantangan perjalanannya tidak hanya itu tetapi saat musim hujan dan tidak ada tempat untuk berteduh karena perjalanan di tengah hutan.

Sudah 7 tahun hal tersebut dilakoninya. Alumni Universitas Negeri Makassar ini mengungkapkan bahwa salah satu suka yang dialaminya adalah bertemu dengan warga pengunungan yang ramah. Tetapi duka yang paling terasa adalah saat ia tiba di tempatnya mengajar, ternyata tidak satupun murid yang hadir.

SD 60 Bung tempatnya mengajar memang masih sangat sederhana. Masih banyak murid-murid yang bahkan belajar Bahasa Indonesia hanya di sekolah. Tak hanya itu tempatnya mengajar 60 siswa(i) masih berupa bangunan semi permanen dan hanya terdiri dari tiga kelas.

Hasbi saat mengajar di kelas (foto: dok pribadi)

Murid kelas 1,2 dan 3 bergantian menggunakan kelas yang sama. Demikian halnya dengan murid kelas 4 dan 5, dan hanya murid kelas 6 yang memiliki ruang kelas sendiri.

Sebuah perjalanan penuh dedikasi yang diperlihatkan oleh anak bangsa untuk mencerdaskan anak bangsanya yang lain yang berada di puncak gunung.

SUMBER : http://www.aktualita.co/perjalanan-ke-puncak-gunung-untuk-mencerdaskan-bangsa/2326/
Read more

0 Traveling And Teaching 5 To SDN 60 Bung

Dalam rangka memperingati Hari pendidikan Nasional, pada tanggal 2 mei 2015, kOmunitas 1000 guru akan mengadakan event di sekolah kami yang bertajuk 1000 tas untuk anak pedalaman.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk membagikan tas dan peralatan sekolah di sekolah kami (SDN 60 Bung) adalah sekolah yang berada di atas gunung coppo tellue Sekolah pelosok di kabupaten Pangkep, Kelurahan Bontoa, Kecamatan Minasatene.


Butuh waktu 2 jam dengan menggunakan kendaraan dari kota Makassar ditambah dengan 2 jam berjalan kaki untuk tiba di lokasi

Sekolah berada diatas gunung di mana akses ke sana masih sulit dijangkau oleh berbagai jenis kendaraan, minimnya fasilitas umum seperti listrik, jaringan komunikasi dan akses Jalan yang membuat masyArakat disana hidup sangat sederhana.

Sebanyak 120 anak yang tercatat sebagai siswa SDN 60 Bung dan SMP 4 satap minasatene, masih tetap mencari ilmu dengan seadanya, sebagian besar dari mereka berasal dari kampung yang harus berjalan kaki melewati pematang sawah dan hutan untuk tiba di sekolah.

Thanks To http://makassar.seribuguru.org/
Read more

0 Mekanisme dan Kewenangan Administrator & Operator Dapodik

SDN 60 BUNG PANGKEP - PDSP adalah Unit kerja di lingkungan Kemdikbud yang mempunyai tugas mengelola data pendidikan, baik di pusat sampai ke tingkat provinsi/kabupaten/kota. Untuk menunjang kegiatan tersebut diperlukan tenaga terampil seperti administrator dan operator.

Administrator adalah pengelola Data Pokok Pendidikan (DAPODIK) di tingkat pusat dan daerah yang ditetapkan melalui SK dan bertanggung jawab terhadap keamanan data.
  • Administrator Pusat ditetapkan dengan SK dari Kepala Pusat Data dan Statistik Pendidikan. Administrator Provinsi ditetapkan dengan SK dari Kepala Dinas Pendidikan Provinsi.
  • Administrator Kabupaten/kota ditetapkan dengan SK dari Kepala Dinas Kabupaten dan Kota.
  • Administrator Dapodik di Pusat, Provinsi, Kabupaten dan Kota, masing-masing 1 (satu) orang.

Mekanisme dan Kewenangan Administrator & Operator Dapodik

  • Operator adalah petugas pendataan yang diberi tanggungjawab dan wewenang untuk mengelola data tertentu, seperti input data, pemeliharaan data, backup data, mengunduh dan mengunggah data.
  • Operator Pusat ditetapkan dengan SK dari Kepala Pusat Data dan Statistik Pendidikan.
  • Operator Provinsi ditetapkan dengan SK dari Kepala Dinas Pendidikan Provinsi.
  • Operator Kabupaten/kota ditetapkan dengan SK dari Kepala Dinas Kabupaten dan Kota.
  • Operator sekolah ditetapkan dengan SK dari Kepala Sekolah.
  • Operator Dapodik di Provinsi, Kabupaten dan Kota, maksimal 7 (tujuh) orang.
  • Operator Dapodik di Sekolah, sebanyak 1 (satu) orang.

A. Kewenangan PDSP
  • Memberikan akun dan sandi admin Dinas Pendidikan Provinsi/ kabupaten/kota
  • Melakukan sosialisasi pemberian akun dan sandi admin Dinas Pendidikan Provinsi/ kabupaten/kota
  • Menerima SK penunjukan Admin dan operator dari Dinas Pendidikan Provinsi/ kabupaten/kota
  • Menyetujui dan mengaktifkan akun dan sandi admin Dinas Pendidikan Provinsi/ kabupaten/kota
B. Kewenangan Provinsi
  • Berdasarkan butir A.2. menetapkan/menunjuk admin dan operator di Dinas Pendidikan Provinsi
  • Menyusun SK admin dan operator Dinas Pendidikan Provinsi
  • Mengirim SK admin dan operator Dinas Pendidikan Provinsi ke PDSP
  • Mengaktifkan akun dan sandi admin Dinas Pendidikan Provinsi
  • Berwenang merubah sandi admin Dinas Pendidikan Provinsi
  • Admin provinsi berwenang memberikan akun dan sandi operator di Dinas Pendidikan Provinsi
  • Setiap operator Dinas Pendidikan Provinsi dapat merubah sandi operator
  • Admin berhak menata ulang/reset sandi operator Dinas Pendidikan Provinsi
C. Kewenangan Kabupaten / Kota
  • Berdasarkan butir A.2. menetapkan/menunjuk admin dan operator di Dinas Pendidikan Kabupaten/kota
  • Menyusun SK admin dan operator Dinas Pendidikan Kabupaten/kota
  • Mengirim SK admin dan operator Dinas Pendidikan Kabupaten/kota ke PDSP
  • Mengaktifkan akun dan sandi admin Dinas Pendidikan Kabupaten/kota
  • Admin berwenang merubah sandi admin Dinas Pendidikan Kabupaten/kota
  • Admin Dinas Pendidikan Kabupaten/kota berwenang memberikan akun dan sandi operator di Dinas Kabupaten/kota
  • Setiap operator Dinas Kabupaten/kota dapat merubah sandi operator
  • Admin berhak menata ulang/reset sandi operator Dinas Pendidikan Kabupaten/kota
  • Menerima SK operator sekolah
  • Menetapkan akun dan sandi operator sekolah
  • Admin Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota mengkoordinir operator Kabupaten/Kota dan sekolah
D. Kewenangan Sekolah
  • Kepala sekolah menetapkan operator
  • Membuat SK operator
  • Mengirimkan SK operator ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
  • Menggunakan akun dan sandi yang telah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
  • Setiap operator sekolah dapat merubah sandi operator
Sumber data: http://npsn.data.kemdiknas.go.id
Read more
 
Powered by Blogger